Percakapan Kedua: Bukan Melebur, Tapi Berdampingan

#MaretMenulis 7

 

“Ma, kenapa dulu Mama mau menikah sama Papa?”

Mama meletakkan koran yang dibacanya lalu menatapku sambil menyipitkan matanya.

“Jawab dong, Ma.” desakku.

Mama tampak mecoba memanggil kembali ingatan-ingatan itu.

“Hmmm..”  Mama menggumam. Aku tidak sabar mendengar jawabannya.

“Ya, karena Mama mau menikahnya sama Papa.” Jawab Mama.

“Ah, Mama…” ujarku tak puas, “bukan gitu…”

“Lho, orang yang nikah Mama, kok kamu yang ngatur, sih?” canda Mama.

“Maksudnya,” ujarku gemas, “sempat kepikian bakal seperti apa kehidupan rumah tangga sama Papa nggak sebelum nikah?”

“Nggak tuh.” Jawab Mama enteng lalu membuka lagi korannya.

“Kok enggak sih, Ma?!”

“Nah, kan protes lagi.”

“Habisnya Mama nikahnya santai banget gitu sih. Kayak nggak mikir.”

Mama meletakkan kembali koran ke pangkuannya. Kali ini sepertinya serius.

“Siapa bilang?” sanggah Mama, “Waktu masih pacaran sama Papa, memang nggak banyak yang Mama pikirkan. Berangkat sekolah bareng, pulang bareng, naik gunung rame-rame sama teman-teman SMA…”

“Ngomongin pernikahan, nggak?” aku menyela.

“Nggak, tuh.” Jawab Mama, “Tau-tau aja Mama udah dipaes ageng.”

Aku tidak puas dengan jawaban Mama. Tidak mungkin pernikahan bisa semudah itu.

“Waktu udah menikah sama Papa, gimana menentukan jalan tengahnya?” aku mencoba lebih spesifik.

“Jalan tengah gimana maksudnya?” Mama tampak bingung.

“Jadi gini Ma, ’kan ada dua orang nih,” aku coba memperagakannya dengan kedua jari telunjukku, “yang satu Mama, yang satu Papa.”

Mama mengangguk paham.

“Masing-masing adalah pribadi yang berbeda. Dibesarkan dengan cara berbeda, punya cara pikir yang berbeda, karakter yang berbeda, pokoknya beda ‘lah.” Mama kembali mengangguk, ”setelah menikah, dua orang ini kan akhirnya jadi satu,” aku menempelkan kedua telunjukku, “otomatis semua-muanya melebur jadi satu ‘kan?”

Mama tampak berusaha mencari jawaban yang paling tepat.

“Melebur bukan pilihan kata yang tepat menurut Mama.”

“Trus apa dong kalau bukan melebur?”

“Berdampingan.” jawab mama tersenyum sambil menatapku.

romantic-699259_960_720

Percakapan pertama ada di sini:

http://alifahfarhana.blogspot.co.id/2016/03/percakapan-pertama-melebur.html

Advertisements

Menjadi Orang yang Meninggalkan

#MaretMenulis 7

Aku ingin menjadi orang yang pergi, aku ingin menjadi orang yang meninggalkanmu

Aku ingin menjadi orang yang membuatmu tiba-tiba waspada saat kuucapkan kata “Sebenarnya…”

Lalu tidak merasakan apa-apa setelah kukatakan semua

Lalu tidak merasakan apa-apa saat melihatmu berkaca-kaca kecewa

Aku ingin menjadi orang yang ingin cepat beranjak karena tidak ingin melihat dramatisasi kesedihan yang tampak di wajahmu hingga aku harus menawarkan selembar tissue atas nama empati

Aku ingin menjadi orang yang berkata, “Kita masih bisa ketemu setelah ini, makan bareng, ngobrol di teras rumah,” walaupun aku tahu itu hanya basa-basi

Itu tidak akan terjadi

Aku ingin menjadi orang yang berusaha setengah mati menyangkal bahwa hubungan kita dulu tidak ada, hanya sebuah pertemanan

Tidak lebih

Aku ingin menjadi orang yang berhenti membaca lalu menutup buku, karena kutahu akhir ceritanya bukan seperti keinginan mereka

Aku ingin menjadi orang yang pergi, aku ingin menjadi orang yang meninggalkan

 

 

 

*ditulis sambil mendengarkan lagu Pamit dari Tulus*

Di Antara Kita Berdua dan Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya

#MaretMenulis 6

“So, what’s next?”

“I don’t know…” Hana menjawab sambil tersenyum penuh makna.

“Yes, you know, Hana.” Saga mencondongkan badannya ke arah Hana.

“Apaan sih, Ga?!” Hana tersipu.

“Jadi udah sejauh mana?”

Hana menghela napas, “Ya gitu…”

“Gitu gimana?” desak Saga, “yang ini jelas bisa jadi imam kan?!”

“Bisa banget… tapi tau’ ah.”

“Cerita dong!” desak Saga lagi, walaupun ia tahu bahwa ia tidak akan mendapatkan banyak informasi.

“Intinya adalah aku nggak yakin.”

“Nggak yakin sama dia, nggak yakin sama diri kamu sendiri, atau nggak yakin buat…” Saga memandang Hana sambil menyipitkan matanya.

“Sekarang ini, begitu sadar kalau hubungan kami akan sangat bisa sekali berakhir di penghulu,” Hana tampak serius, “aku malah merasa makin pingin berkelana keliling dunia.”

Saga tampak menyimak serius.

“Setiap kali aku terbayang wajahnya, entah kenapa selalu muncul pikiran-pikiran tentang kehidupan pernikahan yang membosankan. Pagi-pagi bikin kopi, nyiapin baju kerja buat dia, masak, bersih-bersih rumah, nunggu dia pulang sambil nonton acara gosip…”

“It’s only in your mind, Han.”

“I know.. tapi kan somehow itu jadi bukti kalau aku memang belum siap ‘kan, ya?” Hana mencoba mendapatkan persetujuan dari Saga.

“Bisa jadi sih,” Saga berusaha memberikan jawaban bijak, “tapi ‘belum’ bukan berarti ‘nggak akan’ kan?”

“Gantian dong. Kamu cerita!” Hana mengalihkan pembicaraan, “What’s next?”

“Hmm… cari duit?”

“Ah, duit melulu dari dulu.”

“Lho, bener kan? Kamu mau tua nanti jadi gembel?” jawab Saga setengah bercanda.

“Iya sih…”

“Aku cuma mau memastikan aja, kalau udah tua nanti, aku punya rumah yang nyaman buat ditinggali…”

“…sama?!” pancing Hana.

“Bisa sama siapa aja,” pandangan Saga menerawang, “Al mungkin.”

“Oh, come on! It’s been years lho, Ga.”

“Bercanda, Han.”

Hana menghela napas lalu tersenyum.

“So, I met this someone.” tambah Saga.

“Terus… terus?!” kedua mata Hana tampak berbinar tak sabar mendengar cerita.

“Ya nggak teras terus. Baru juga kenal.”

“Tapi suka?”

“So far sih suka.”

“Inget ya,” Hana mewanti-wanti, “jangan kayak yang kemarin.”

“Maksudnya jangan berekspektasi terlalu tinggi kayak kemarin ‘kan?”

Hana mengganggukkan kepalanya dengan mantap.

“Best feature?” tanya Hana.

“Mata. Aku suka matanya.”

Mereka Berdua Tersenyum

#MaretMenulis 5

So, how’s life?”

Life’s keep going.”

For sure.”

It’s been...” Hana berpikir.

“… two?!” jawab Saga tak yakin, “No, three. I guess three years.” ia meyakinkan dirinya sendiri.

“Kamu tambah ganteng, ya.”

“Memang dari dulu ‘kan?” jawaban yang membuat Hana menyesali kata-katanya sendiri.

“Aneh ya, tiga tahun ini kita nggak ketemu, tapi kok rasanya sama aja ya?”

“Sama aja gimana?” Saga mengernyitkan dahi.

“Ya sama. Seperti jeda tiga tahun yang lalu itu nggak ada. Kayak kita nggak pernah pisah aja. Bedanya, kalau dulu setelah kita nggak ketemu seharian, malamnya kita membahas tentang How’s today…

“…kalau sekarang bahasannya How’s life yang nggak bakal habis dibahas bahkan sampai coffee shop ini tutup.” Saga lalu menyeruput caffe mocha dari cangkirnya.

See! Kamu bahkan masih bisa menyelesaikan kalimatku. Beat kita masih sama!” Hana memang selalu meledak-ledak seperti ini, “Kenapa ya tiga tahun kemarin kita nggak saling menghubungi?”

Pertanyaan retoris itu terucap juga.

“Jadi kamu sudah ke pelosok Indonesia yang mana lagi?”

“Hmm… sejak terakhir kita ketemu itu, aku sudah ke Papua lagi tiga kali, Maluku, Flores…”

Sebenarnya Saga selalu penasaran dengan pekerjaan yang dilakukan Hana.

“Biasa, penelitian.” begitu jawab Hana setiap kali ditanya, lalu ia akan menghilang selama seminggu; paling lama dua minggu.

Hana bahkan tidak menceritakan penelitian macam apa dan di desa terpencil mana ia melakukannya. Saga cuma tahu penelitian itu selalu ada hubungannya dengan kesejahteraan masyarakat di daerah terpencil, kesehatan ibu dan anak, sanitasi, dan blablabla. Tak ada yang spesifik.

“Eh, aku juga akhirnya ketemu langsung sama orangutan di habitat aslinya, lho!”

“ Tanjung Puting?”

“Ya masak iya di Gembiraloka, Ga.”

“Trus… udah jadi ke Ubud?”

Hana berpikir sesaat.

“Ah, iya! Kita kan dulu janjian ke Ubud bareng ya!”

Saga mengangguk sambil tersenyum.

“Aku udah beberapa kali sih ke Bali, tapi ya buat urusan kerjaan, jadi malah nggak sempat ke mana-mana.” ujar Hana, “Kamu?”

“Sebulan setelah kamu pindah dari Jogja, aku ke Bali.”

“Terus ke Ubud?”

“Yup. Sekalian ketemu sama Daniel.”

“Ooo.. Mas Daniel sahabat kamu yang guru Bahasa Indonesia itu, ya?”

Saga mengangguk.

“Yah, aku belum sempat ketemu dia.”

“Main lah kamu ke Ubud, ketemu Daniel.”

“Yeee.. aku kan belum kenalan langsung..”

“..tapi dia udah tau banyak tentang kamu.” potong Saga.

“Kamu ‘kan yang cerita?!”

Saga menjawab dengan senyuman.

“Kapan ya kita bisa ke Ubud bareng?” celetuk Hana sambil menerawang.

“Dulu rencana kita gagal,” pandangan Saga ikut menerawang, “jadi sekarang nggak usah bikin rencana.”

“Maksudnya?” Hana mengernyitkan dahi.

“Ya, seperti malam ini. Setelah tiga tahun, akhirnya kita bertemu di tempat ini, tanpa direncana,” Saga menyeruput caffe mocha-nya, “mungkin rencana semesta.”

Hana mengganguk tanda setuju.

“Mungkin nanti kita juga bisa ketemu di Ubud somehow..”

“..dan kita bakal ketawa kalau moment itu bener-bener terjadi.”

Giliran Saga yang mengangguk sambil tersenyum.

Mereka berdua tersenyum.

Seorang Lekaki yang Membenci Dirinya

#MaretMenulis 4

“Sampai kapan aku bisa mengulur waktu?”

“Udah ga ada lagi yang namanya waktu. Kamu tau ‘kan?!”

“Kita sama-sama takut untuk memulai hidup yang baru.”

“Kita?! Kamu!”

“Kamu tau aku nggak bisa,” mataku mulai berair, “Nggak akan pernah bisa, Ga!”

“Bisa! Tapi kamu nggak mau!”

“Aku nggak bisa… Nggak bisa…” tiba-tiba napasku tersengal, aku terisak, tangisku pecah.

“Al, kita udah melewati banyak hal..”

“Terlalu banyak, Ga.” aku masih terisak, “terlalu banyak.”

“..dan sekarang kamu menyerah?”

“Aku nggak menyerah. Aku realistis. Udah berapa kali kita bertengkar seperti ini.. dan akan berapa kali lagi?”

“Kamu menyerah, Al.”

“Jangan memojokkan aku, Ga!”

“Kita bisa tunggu setahun lagi. Kita nabung, lalu sama-sama pindah dari Indonesia.”

“Lalu aku akan dihantui dosa dan rasa bersalah ke orangtuaku seumur hidup?”

“Nggak usah ngomongin dosa! Ini tentang kita.”

“Nggak bisa, Ga! Nggak bisa!”

Kami berdua terdiam.

“Udah ya, Ga.” ujarku lagi.

“Kita harus ketemu! Besok aku ke Jogja.”

“Apa bedanya, Ga? Sekarang atau besok atau setahun lagi… nggak akan mengubah apapun. Kita sama-sama tahu akhirnya akan seperti apa.”

“Kamu nggak usah sok memutuskan sepeti apa nanti akhirnya!”

“Lihat ‘kan.. kalau diteruskan, kita akan selalu sampai di titik ini lagi.”

Ia terdiam.

“Semoga kita sama-sama ketemu sama yang lebih baik.”

“Kamu menyerah, Al.”

“Aku nggak peduli apa katamu, Ga.”

“Aku benci kamu, Al.”

“Terimakasih, Ga.”

“Aku benci kamu.”

Aku juga benci diriku sendiri, Ga.

…lalu kumatikan telpon.

Waktu

#MaretMenulis 3

Kita sia-siakan waktu.

Saat mengagumi dalam diam dan bertanya-tanya dalam pikiran

Saat ia di hadapan dan tidak ada sepatah kata diucapkan

Saat memikirkan bahwa “tidak” adalah satu-satunya jawaban dari sebuah pertanyaan yang belum diucapkan.

Kita sia-siakan waktu.

Karena tidak tahu itu akan begitu cepat berlalu

Karena masih berada di area kelabu

Karena ego yang terlalu besar sehingga selalu diri kita yang nomer satu

Kita sia-siakan waktu.

Lalu berharap semua bisa berulang

Lalu berharap  bisa sekuat batu karang

Lalu berharap dan berharap dan berharap kita menghilang

Kita sia-siakan waktu.

Untuk menyalahkan

Untuk mengutuk

Untuk menyesal

Untuk melupakan

Untuk dilupakan

Seperti Sebuah Kalimat yang Diakhiri Titik Koma

#MaretMenulis 2

Kamarnya sudah nyaris bersih. Sebagian besar barang-barangnya sudah dipaketkan lebih dulu ke kota kelahirannya. Kini ia tinggal mengemasi sisa pakaian dan memasukkannya ke dalam carrier merah yang selalu menemaninya backpaking ke luar negeri.

Sesekali ia menoleh kepadaku, lalu terdiam, lalu seperti menghela napas.

Ada sesuatu yang tidak terungkap.

Ia kembali mengemasi pakaiannya; kemeja putih yang dipakainya saat ujian pendadaran, kemeja batik yang dibelinya untuk menghadiri gala dinner di Keraton, kaos singlet Bintang yang dibelinya di Bali, celana chino yang hanya dipakainya saat celana jeans belel kesayangannya dicuci, semua dikemas menjadi satu.

Ia kembali menoleh kepadaku, lalu sesaat pandangannya menerawang ke langit-langit kamar.

Aku tahu ada keraguan, seperti sebuah kalimat pada paragraf terakhir dari sebuah cerita yang justru diakhiri dengan titik koma.

Ia meraihku dengan tangannya, lalu menatapku. Bibirnya seolah ingin berkata-kata.

“Ga, taksinya udah dateng, tuh.”

“Oh, oke, Mbak. ” Ia melepaskan genggamannya.

“Pokoknya nanti kalau bosen sama Jakarta, balik lagi aja ke Jogja, tinggal di sini lagi bareng kita.”

“Hehehe.. Pasti, Mbak.” jawabnya sambil meraih carrier merah itu.

“Eh, Ga, buku ini ‘kan…”

“Buat Mbak aja boleh kok,” Ia menoleh padaku, lalu memaksakan sebuah senyuman, “masih ada beberapa lembar yang kosong, bisa buat corat-coret si kecil.”

“Gambar-gambar kamu bagus lho, Ga. Mirip banget sama dia.” Ia hanya tersenyum.“Kamu mau Mbak kasih buku ini ke dia?”

“Ga usah, Mbak. Buku itu kan harusnya jadi hadiah anniversay, tapi karena umur kita berdua nggak sampai di anniversary, jadi ya… biarin aja deh.”

“Tapi kalau Mbak simpen aja boleh?” katanya sambil memelukku erat di dadanya.

Ia memandangku sesaat, “Terserah Mbak.” lalu tersenyum sekenanya.

“Ya udah, sana berangkat, jangan sampai nanti lari-lari di bandara.”

Mereka kemudian berpelukan dan saling mengucapkan selamat tinggal.